Ilustrasi (foto: internet) |
duniahalimah.com—Hari
ini, 29 April 2021 saya menghadiri acara buka bersama yang diadakan Komunitas
Pemuda Ranuyoso (Kopra) dan Pac Ansor Ranuyoso. Acara sore ini dimulai dengan
pengenalan seputar Kopra yang disuguhkan langsung oleh Ketua Kopra, Cak Huda
begitu sapaan akrabnya. Setelah itu dari ketua Pac Ansor Ranuyoso yakni Cak
Karno. Barulah dilanjutkan dengan diskusi ringan menjelang berbuka.
Berada di tengah dua perkumpulan ini, saya sendiri merasa sangat
antusias. Apalagi keduanya adalah sama-sama pemuda Ranuyoso. Tentu ini sebuah
langkah yang begitu maju dibandingkan dahulu, yang belum muncul perkumpulan
berbasis pemuda. Adanya organisasi semacam ini, memberikan wadah bagi pemuda
dan membuka peluang kemajuan desa. Pemuda sebagai tonggak harapan bagi
perubahan, pastinya harus ikut bergelut di medan laga, mencurahkan apa yang dia
bisa.
Ranuyoso sebagai sebuah kecamatan paling utara kerapkali diinisiasi
dengan logo bernada negatif. Mulai dari wilayah yang seringkali “macet” hingga
banyaknya kriminalisasi di wilayah ini. Seakan-akan Ranuyoso benar-benar jauh
dari sesuatu yang patut diunggulkan. Bahkan semasa di strata satu dulu, ketika
saya memesan ojek online, saat di jalan Bapaknya bertanya tentang asal saya.
Sontak rata-rata mereka mengenalnya dengan sebutan “ bernada negatif,” meski
tidak jarang dari mereka menyebut sebagai sebuah wilayah yang kaya akan hasil
bumi dan pemandangannya. Namun bagi saya masih sama saja.
Memperbincangkan ini, jadi teringat dengan perkataan Camat
Ranuyoso, “Jangan berharap orang lain merubah, tapi kitalah yang merubah.”
Sesekali setiap kita memang perlu merenungi hal ini. Adanya dua perkumpulan
seperti “Kopra dan Ansor” menyodorkan potensi perubahan. Usianya memang sangat
baru. Akan tetapi ini merupakan langkah awal untuk transformasi kekurangan yang
ada di Ranuyoso menjadi kelebihan.
Selama ini—seperti yang disebut dalam tulisan awal—tendensi negatif
kerapkali menghantui. Penyebabnya tidak lain karena adanya ketidakseimbangan
antara kelebihan dan kekurangan. Alhasil kekurangan menjadi dominan. Di sinilah
sebetulnya PR bersama, bukan hanya Kopra dan Ansor, tetapi organisasi atau
perkumpulan pemuda di Ranuyoso. Mengapa pemuda? Jawabannya pasti pembaca sudah
tahu, karena hanya pemuda harapan bangsa. Memang generasi sebelum pemuda
memiliki kontribusi kuat, akan tetapi tanpa ada generasi pengganti—pemuda—mustahil
harapan maju akan tercapai.
PR pemuda memang sangat banyak dan tidak bisa dilakukan secara praktis.
Banyak hal yang jadi persoalan di Ranuyoso, meski selama ini nyatanya tidak
pernah dijadikan persoalan. Terbukti rakyatnya merasa biasa-biasa saja,
walaupun berbagai kesenjangan terjadi. Sejalan dengan perkataan seorang senior
di sebuah komunitas sumber daya alam;
Adem ayem karena tidak tahu dan tidak mau tahu. Padahal mereka yang bakal merasakan dampaknya
Realitanya memang demikian, posisi aman menjadi pilihan terasyik,
dibandingkan melawan posisi demi perubahan. Padahal dirinyalah yang akan
jadi imbas dari dampaknya. Problem ini pula perlu dikaji lagi oleh
pemuda Ranuyoso, merubah pemikiran. Jika tidak bisa merubah semua orang,
minimal mempengaruhi para pemuda—aset bangsa. Hal ini pula yang sempat
dikatakan oleh dua kader IPNU dan IPPNU Ranuyoso beberapa minggu yang lalu—setelah
mengikuti diskusi mereka dalam menyiapkan kegiatan Ramadan. Melalui pemuda,
berharap perubahan lebih baik akan terjadi.
Baca Juga: Tidak Semua Orang Idealis
Perubahan memang tidak langsung terjadi, tetapi butuh proses panjang.
Namun tanpa ada pergerakan, pastinya tidak akan ada perubahan. Di sinilah antar
pemuda Ranuyoso perlu bersinergi untuk mejemputnya. Sebagaimana kata peribahasa,
sebatang lidi tidak berarti apa-apa, tetapi bila banyak lidi diikat menjadi sapu, maka akan menyapu segala-galanya. Begitulah harapan dari buka bersama antara Kopra dan PAC Ansor Ranuyoso.
Ilustrasi (foto: PAC Ansor Ranuyoso) |
0 Comments